Dalam terminologi Islam, musibah artinya semua bencana yang menimpa
dan dibenci manusia, berdasarkan sabda Rasulullah Saw, “Setiap perkara
yang menyakiti manusia adalah musibah.”
Kata musibah disebutkan
pada sepuluh ayat di berbagai surat Al-Qur’an, dan semuanya bermakna
kemalangan, musibah, dan bencana yang dibenci manusia. Namun demikian,
musibah tidak akan menimpa seseorang kecuali atas izin Allah Swt.
Allah Swt berfirman: “Apa
saja bencana yang menimpa seseorang hanyalah terjadi dengan izin Allah.
Siapa saja yang beriman kepada Allah, pasti hatinya akan mendapat
hidayah. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Qs. At-Taghâbun [64]: 11).
Maka
terjadinya bencana yang susul menyusul dalam musim haji 1436 H,
menyisakan duka yang menghentak jiwa kita. Setelah insiden robohnya
mesin derek (crane) di Masjidil Haram yang menyebabkan 111 orang
meninggal dan 350 orang luka-luka, kemudian hotel penginapan terbakar,
lalu ratusan tenda di Arafah roboh diterpa badai gurun.
Menyusul
tragedi Mina pada Kamis 24 September 2015, kurang dari 2 minggu
pasca-tragedi jatuhnya crane di Masjidil Haram, merupakan yang terparah
dalam kurun waktu seperempat abad sejak 1990. Sebanyak 769 jamaah haji
wafat dan 863 lainnya luka-luka akibat terinjak-injak saat dua arus
jamaah dari Jalan 204 dan 223 yang menuju Jamarat, tempat melempar
jumrah bertabrakan.
Peristiwa nahas tersebut terjadi pada pk
07.30. waktu setempat. Bermula di Jalan 204 yang bersimpangan dengan
Jalan 223. Di jalan tersebut menuju lokasi jumrah, jamaah membeludak,
desak-desakan, dan terjadi aksi saling dorong. Itulah yang menyebabkan
jatuhnya banyak korban.
Terjadinya tragedi Mina agak janggal.
Pengalaman dari beberapa kali terjadi musibah sebelumnya, kecelakaan
biasanya terjadi di seputar Jamarat. Namun, insiden kali ini terjadi
jauh dari lokasi pelemparan jumrah. Apa yang menyebabkan jumlah jamaah
membeludak di lokasi jalan simpang 204 itu?
Makar Syi’ah
Sebagai
orang beriman, kita meyakini bahwa musibah terjadi hanya atas izin
Allah. Namun, manusia punya andil dalam setiap peristiwa bencana itu.
“Wahai
Manusia, bencana apa saja yang menimpa diri kalian, maka bencana itu
adalah hasil kerja tangan-tangan kalian. Namun demikian amat banyak
kesalahan-kesalahan kalian yang dimaafkan oleh Allah.” (Qs. Asy-Syura [42]:30)
Secara
obyektif, pemerintah Arab Saudi sebenarnya telah berupaya memperbaiki
kualitas penyelenggaraan ibadah haji serta kuantitas daya tampung.
Termasuk merenovasi jembatan Jamarot, membuat sistem jalur untuk
melempar jumrah, menyediakan Kereta Api, tenda AC, juga WC di Arafah
yang dibuat secara massal. Namun, arus jamaah haji yang menuju lokasi
jumrah saban tahun selalu lebih besar dibanding infrastruktur yang
tersedia.
Otoritas Kerajaan Arab Saudi telah menyiapkan rencana
lalu lintas terintegrasi menyusul dihapuskannya jalur jemaah dari Padang
Arafah menuju Mina, yang berjarak 14,4 kilometer.
Salah satu
terowongan yang menjadi pintu masuk ke wilayah Arafah, Muzdalifah, dan
Mina (Armina) yaitu terowongan King Fahd, ditutup bagi kendaraan. Hanya
pejalan kaki yang bisa melalui daerah tersebut.
Lalu, tragedi Mina
terjadi juga, ulah siapa? Menteri Kesehatan Arab Saudi, Khaled al-Falih
menyatakan, terjadinya tragedi itu akibat ketidakdisiplinan Jemaah
Haji. Ia mengatakan, “insiden bisa dihindari jika mereka mengikuti
instruksi.” “Tindakan keamanan di Mina sudah teruji dan mantap,”
ujarnya.
Sejumlah saksi mata di lokasi kejadian mengatakan, bahwa
insiden diawali dengan terburu-burunya para Jamaah Haji dari Iran untuk
melewati dan menerobos rute jamaah lainnya. Mereka menolak diatur saat
diminta kembali ke rute yang sudah ditentukan.
“Jamaah dari Iran
tidak mendengarkan dan mengabaikan instruksi, kemudian bentrok dengan
kami dan meneriakkan slogan-slogan revolusi sebelum terjadinya insiden,”
ungkap seorang pejabat keamanan Saudi seperti dikutip Sabq.org, Jumat
(25/9).
Dalam sebuah tweet bertanggal 10 September 2015 (14 hari
sebelum tragedi Mina) akun berinisial ( منشق عن حزب الله ) ‘Pembelot
Dari Hizbullah’ menuliskan pengalamannya, yang kemudian diterjemahkan
oleh seorang mahasiswa Indonesia, program doctoral di Universitas
Madinah, Musyaffa Ad-Darimi, Lc, MA isi lengkap tweet berbahasa Arab
tersebut.
“Asalnya ada suara teriakan dari Jamaah Haji, yang
meneriakkan agar rombongan Jamaah Haji dari Iran memutar arah ke
belakang, karena arah mereka berlawanan dengan arah para Jamaah Haji
lain yang menggunakan jalan yang sama untuk menuju ke Jamarot. Inilah
sebab utama terjadinya musibah di Mina.
Ya, waktu itu saya berada
di tempat kejadian, dan saya melihat sendiri apa yang terjadi. Memang
seperti itulah cara Jamaah Haji Iran setiap tahun. Mereka selalu
menyelisihi kaum muslimin.
Travel-travel Iran selalu menyelisihi
kaum muslimin. Mereka melempar jamarot, kemudian kembali (lawan arah)
melewati jalan yang sama yang dipakai oleh Jamaah Haji lain untuk
berangkat melempar jamarot. Inilah sebab terjadinya keramaian itu.
Catatan hitam sejarah Syi’ah di tanah suci bukan perkara baru, karenanya
tidak jauh kemungkinan ada konspirasi Syi’ah internasional.”
Indikasi
makar dan konspirasi Syi’ah internasional, diperkuat dengan testimoni
Farzad Farhangian, mantan diplomat Isran. Farzad mengungkapkan rencana
Iran untuk mengacaukan Jemaah Haji, sengaja untuk mempermalukan Arab
Saudi.
Seperti dilansir kolalwatn.net pada Rabu (22/09/2015), rencana
jahat itu dilakukan dengan memprovokasi ISIS melalui intelijen Iran.
Mereka diarahkan agar menghancurkan tenda-tenda haji Syiah Iran dan
Irak.
“Dalam pertemuan itu disepakati bahwa momentum paling tepat
untuk menghancurkan rezim Saudi adalah pada musim haji ini. Jika hal itu
tidak dilakukan maka mereka akan kehilangan misi besarnya,” tulis
Farzad Farhangian dalam akun Twitternya.
Pertemuan besar itu
melibatkan semua pemimpin keamanan dengan Ali Khamenei yang juga diikuti
oleh Qassem Soleimani, Ali Akbar Velayati, Ali Larijani, dan Alaeddin
Boroujerdi seminggu setelah Ramadhan tahun ini.
“Ada informasi
yang sangat berbahaya dan telah disepakati, yaitu menggerakkan ISIS yang
didanai oleh Khamenei untuk melakukan pemboman dan pembunuhan,
khususnya di kamp-kamp Iran atau orang-orang Syi’ah dari negara lainnya
di daerah Mina atau Arafah,” ungkap Farzad.
“Hal ini bertujuan
agar para jama’ah Iran, Iraq serta orang-orang Syi’ah dari negara lain
menimbulkan kerusuhan sebagai bentuk protes atas tindakan Saudi membantu
Pemerintah resmi Yaman,” tambahnya.
Menurut Farzad, rencana ini
bertujuan jahat, menunjukkan pada dunia Islam bahwa pemerintah Arab
Saudi tidak becus melindungi keamanan tempat-tempat suci umat Islam.
“Saya
tidak akan menyembunyikan informasi ini kepada siapapun. Yang
bertanggung jawab dalam hal ini adalah seorang pengecut. Mereka
menginginkan pemerintahan Saudi hancur walaupun harus mengorbankan
ribuan nyawa,” pungkas Farzad.
Simpati dan Kecaman
Peristiwa
tragis yang terjadi di kala dua juta Muslim sedang menyelesaikan
rangkaian akhir ibadah haji, mengundang keprihatinan dari banyak negara.
Ucapan belasungkawa, bahkan kritik mengalir dari tokoh-tokoh dunia.
Pemimpin
Katholik Paus Franziskus, yang sedang melawat ke Amerika Serikat
menyatakan turut berdukacita dan solidaritas dengan dunia Muslim atas
tragedi itu. Juga Gedung Putih dan sekjen PBB Ban Ki Moon menyampaikan
ucapan dukacita serupa.
Paus Franziskus menyebutkan kedekatannya
dengan umat Muslim menghadapi tragedi ini. “Saya ingin menyampaikan rasa
kedekatan saya dengan mereka yang tengah menderita di Mekkah,” ujarnya,
seperti dikutip Al Jazeera, Jumat (25/9/2015). “Dalam momen ini, saya bersatu dengan kalian untuk berdo’a kepada Tuhan,” lanjutnya.
Di
sisi lain, Iran yang mengaku lebih 100 orang jemaah Haji Syi’ah
meninggal dalam tragedi Mina, mengecam keras manajemen haji pemerintah
Arab Saudi. Ayatullah Ali Khamenei, pimpinan tertinggi Syi’ah Iran dalam
pernyataan yang dilansir pada situs webnya menulis: “Pemerintah Saudi
harus bertanggung jawab atas kecelakaan menyedihkan itu. Kesalahan
manajemen serta aksi tidak cepat tanggap memicu tragedi itu”.
Kecaman
Ali Khamenei kian berbisa. “Pemerintah Arab Saudi punya kewajiban untuk
bertanggungjawab atas kejadian ini. Mereka jelas tidak bisa mengurus
dan bertindak tidak kompeten dalam mengatur ibadah haji,” ujarnya,
seperti dikutip Al-Monitor, Jumat (25/9/2015).
Kemarahan
pimpinan Syi’ah ini menemukan momentum yang tepat untuk dilampiaskan.
Pertama, dendam politik terhadap Arab Saudi yang memimpin aliansi
negara-negara Arab untuk menyerang Syi’ah Houtsi di Yaman. Kedua,
merusak citra Kerajaan Saudi Arabia guna memenuhi ambisinya untuk tujuan
internasionalisasi pengelolaan haji.
Akan tetapi, orang-orang
yang berakal sehat tentu sikapnya berbeda dengan Sang Ayatollah.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan misalnya. Ia mengeluarkan pernyataan
yang membela Arab Saudi soal penyelenggaraan haji tahun ini.
“Saya
tidak bersimpati dengan pernyataan yang bermusuhan terhadap Saudi,”
kata Erdogan pada wartawan, Jumat (25/9/2015), seperti dikutip dari Hurriyet Daily News.
“Adalah
keliru menyebut jika Saudi tidak melakukan yang terbaik dalam melayani
jamaah haji,” lanjut Erdogan. “Anda harus melihat semua masalah secara
keseluruhan. Arab Saudi akan mengambil tindakan yang tepat untuk
mengatasi masalah ini,” tegas Erdogan.
Benar, Raja Saudi Arabia Salman bin Abdul Aziz telah memerintahkan investigasi serius atas tragedi Mina.
“Kami
memerintahkan pengkajian ulang semua perencanaan dan pelaksanaan, baik
dalam organisasi maupun di bidang manajemen, untuk meningkatkan
kelancaran ibadah haji,” ujar penguasa Haramain itu. Raja Salman
menegaskan: “Ini kecelakaan menyedihkan, dan kami juga memerintahkan
investigasi serius serta melaporkan hasilnya secepatnya”.
Dunia
Islam menuntut, Raja Salman dapat segera memenuhi janjinya. Bukan hanya
menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan Saudi Binladin Group terkait
jatuhnya crane di Masjidil Haram.
Akan tetapi yang lebih
penting, menjatuhkan sanksi kepada Iran mengingat hampir setiap musim
haji, Syiah Iran melakukan makar dan membuat onar. Tidaklah adil bagi
umat Islam, bila penguasa Al-Haramain memberikan visa haji kepada sekte
Syi’ah, padahal selain membuat rusuh, mereka juga mengganggu Jamaah Haji
lain dengan teriakan jahiliyah, mengganti syiar talbiyah tauhid dengan
talbiyah syirik, “labbayka ya Husein, ya Zaenab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar